Kuliah Ustaz Dr Abdullah Yasin
إِنَّ الَّذِيْنَ آمَنُوا وَالَّذِيْنَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِى سَبِيْلِ اللهِ ، أُولَئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللهِ ، وَ اللهُ غَفُورٌ رَحِيْمٌ ( 218 )
Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Al-Baqarah : 218)
MUKADDIMAH :
Menurut keyakinan Umat Islam bahwa manusia wajib berusaha dan beramal soleh agar layak masuk syurga Allah. Namun demikian, amal soleh yang mereka usahakan itu bukanlah segala-galanya, tetapi pada masa yang sama mereka sangat mengharap untuk mendapat Rahmat Allah yakni Kasih Sayang Allah. Di dalam keyakinan Umat Islam seseorang hanya layak memasuki syurga Allah, jika dia mendapat Rahmat Allah.
Rasulullah SAW bersabda :
*عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ : لَنْ يُدْخِلَ أَحَدًا عَمَلُهُ الجَنَّةَ . قَالُوا : وَلَا أَنْتَ يَا رَسُولَ اللهِ ؟ قَالَ : لَا ، وَلَا أَنَا ، إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِيَ اللهُ بِفَضْلٍ وَرَحْمَةٍ . ( رواه البخاري )*
Daripada Abu Hurairah RA katanya : Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda : Tidaklah sekali-kali amalan seseorang yang memasukkannya ke dalam syurga. Mereka (Para sahabat) bertanya : Apakah Tuan juga demikian, Wahai Rasulullah ? Jawapnya : Tidak, aku juga tidak (amalku yang memasukkan aku ke dalam syurga) kecuali berkat limpahan kurnia dan Rahmar-Nya. (HR Bukhari ; No Hadis : 5673 )
PENGAJARAN AYAT :
Di dalam Ayat Bab di atas (Al-Baqarah : 218), Allah SWT menegaskan bahwa ada tiga cara utama untuk mendapat Rahmat Allah SWT, iaitu :
1. IMAN.
Keimanan yang dimaksudkan disini ialah keimanan yang murni tidak bercampur syirik sedikitpun. Hakikat ini ditegaskan oleh Allah SWT di dalam firman-Nya :
الَّذِيْنَ ءَامَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيْمَانَهُمْ بِظُلْمٍ ، أُولَئِكَ لَهُمُ الأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ (82 )
Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. (Al-An’aam : 82)
Ayat ini memberi isyarat bahwa hanya orang yang mempunyai iman yang murni tanpa dicampuri syirik saja yang akan aman daripada siksaan Allah di akhirat dan mendapat petunjuk. Secara tersirat (mafhum ayat) seseorang tidak akan aman daripada siksaan Allah jika imannya masih bercampur dengan kezaliman yakni syirik. (Lihat makna zalim dalam surah Luqman)
2. HIJRAH.
Menurut bahasa : Hijrah ialah berpindah dari satu tempat kepada tempat yang kedua. Hijrah menurut agama terbagi kepada dua jenis, iaitu : ( هِجْرَةٌ حِسِّيَّةٌ ) : Hijrah Fisikal ; ( هِجْرَةٌ مَعْنَوِيَّةٌ ) : Hijrah Sikap. Jika dibandingkan antara dua Hijrah ini maka Hijrah Maknawiyah adalah lebih afdhal. Hakikat ini sesuai dengan Sabda Nabi SAW :
أَفْضَلُ المُهَاجِرِيْنَ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللهُ عَنْهُ . ( رواه الطبراني – حديث صحيح عند الألباني )
Sebaik-baik orang-orang yang berhijrah ialah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah. (HR Al-Tabaraniy – Hadis ini sahih menurut Syeikh Al-Albaniy)
3. JIHAD FI SABILILLAH
Perkataan ( الجِهَادُ ) : Al-Jihad, berasal dari perkataan ( الجُهْدُ ) Al-Juhd, dengan maksud ( المَشَقَّةُ ) : Bersusah payah. Dan perkataan ( فِى سَبِيْلِ اللهِ ) : Fi Sabilillah, maknanya ( الطَّرِيْقُ المُوْصِلُ إِلَى مَرْضَاةِ اللهِ ) : Jalan yang boleh menyampaikan seseorang kepada keredhaan Allah.
Jadi jika digabungkan antara dua ungkapan tersebut ( الجِهَادُ فِى سَبِيلِ اللهِ ) : Jihad di jalan Allah, maknanya : Kesungguhan seseorang dengan tujuan untuk mendapat keredhaan Allah SWT.
Allah SWT menegaskan bahwa mereka yang telah memiliki tiga syarat sahaja yang layak mendapat Rahmat Allah, iaitu Iman, Hijrah dan Jihad. Ayat ini diakhiri dengan ( وَاللهُ غَفُورٌ رَحِيْمٌ ) : Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Ini pula memberi isyarat bahwa Dia Maha Pengampun terhadap mereka yang lalai memiliki tiga syarat ini pada masa silam, dan Dia Maha Penyayang karena bersedia menerima mereka jika mereka ingin kembali kepada-Nya.
KESIMPULAN :
1. Tiga syarat utama seseorang mendapat Rahmat Allah, iaitu : Iman, Hijrah dan Jihad.
2. Jihad (Kesungguhan) pula menjadi syarat untuk memiliki Iman dan Hijrah.
3. Jangan berangan-angan mendapat Rahmat Allah jika tiga syarat tersebut tidak dipenuhi.
4. Allah sentiasa bersedia memberi ampunan jika kita lalai memenuhi tiga syarat tersebut.
5. Allah Maha Penyayang terhadap orang yang ingin kembali ke pangkuan-Nya.
Showing posts with label Taddabur. Show all posts
Showing posts with label Taddabur. Show all posts
Monday, May 18, 2020
PERINTAH MENGIKUTI ISLAM SECARA MENYELURUH
Perkongsian nota kuliah Ustaz Dr Abdullah Yasin
( Al-Baqarah : 208 )
يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِى السِّلْمِ كَافَّةً ، وَلَا تَتَّبِعُواخُطُواتِ الشَّيْطَانِ ، إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِيْنٌ ( 208 )
TERJEMAHAN :
208. Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.
TAFSIR AYAT :
Dalam ayat-ayat sebelumnya Allah S.W.T. telah membagi manusia kepada dua golongan iaitu golongan yang suka membuat kerusakan di atas muka bumi dan golongan yang ikhlas yang hanya mengharap keredhaan Allah dan sentiasa taat dan patuh dengan ketentuan-Nya. Dan dalam ayat berikut pula Allah menjelaskan bahawa sifat dan sikap orang-orang yang beriman sentiasa cenderong kepada perpaduan dan tidak berpecah belah. Mereka disuruh oleh Allah agar masuk ke dalam Islam secara menyeluruh , dan jangan masuk Islam setengah setengah.
Pada masa yang sama orang-orang yang beriman juga dilarang agar jangan mengikuti langkah-langkah syaitan, sebab syaitan itu bagi manusia adalah musuh yang sangat nyata.
يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِى السِّلْمِ كَافَّةً ، وَلَا تَتَّبِعُواخُطُواتِ الشَّيْطَانِ ، إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِيْنٌ ( 208 )
208. Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.
Di dalam ayat ini Allah SWT menyuruh orang-orang yang beriman agar masuk ke dalam agama Islam secara menyeluruh ( syumul ) dan jangan setengah-setengah.
Syaikh Muhammad 'Aliy Al-Sabuniy berkata : Allah SWT memerintahkan orang-orang yang beriman dalam ayat ini agar mematuhi hukum-hakam-Nya dan menerima arahan-Nya serta masuk Islam, sebab Dia tidak menerima agama selainnya. Masuklah kamu ke dalam Islam secara menyeluruh, dalam urusan hukumnya dan syari'atnya. Janganlah kamu mengambil hanya sebahagian hukum dan meninggalkan hukum yang lain. Janganlah kamu hanya mengambil solatnya tetapi enggan mengeluarkan zakat, sebagai contoh. Islam adalah menyeluruh adalah Kaaffah (Comprehensive / Syumul), ia tidak terpisah-pisah. Itulah sebabnya sambungan ayat Allah SWT menegaskan : Janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu bagi kamu adalah musuh yang sangat nyata.
Munurut Imam Al Maraghy maksud ayat di atas :
Hai orang-orang yang beriman dengan lidah dan hatinya, hendaklah kamu kekal di dalam ke-Islamanmu setiap kamu memulai hari-harimu dan janganlah sekali-kali kamu terkeluar daripada ajarannya walaupun sedikit. Bahkan ambillah ajaran Islam secara menyeluruh dalam kehidupanmu dan jadikan Islam sebagai cara hidupmu (way of life). Lihatlah segala urusan harianmu dengan kaca mata Islam dan sesuaikanlah segala tindak tandukmu dengan nas-nas Al Quran dan Al Hadis serta beramallah dengan berpandukan kepadanya. Janganlah ada di kalangan kamu orang yang mengambil hujjah sesuka hatinya semata-mata berdasarkan logika tanpa merujuk kepada Al-Quran dan Al-Sunnah untuk mengalahkan pihak yang lain. Dan jika perkara ini dapat dipatuhi niscaya akan terhindarlah kamu daripada perpecahan dan permusuhan dan akan wujudlah perpaduan berdasarkan tali Allah (HablulLaah)
Allah SWT berfirman :
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيْعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ،
Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, ( Ali-'Imran / 3 : 103 )
Jadi dengan lain perkataan semua orang yang benar-benar beriman mestilah menyesuaikan segala tindak tanduknya dengan kehendak Islam dan janganlah ada di antara mereka yang mempertuhankan hawa nafsunya (mengikuti hawa nafsunya), sebab sikap demikian bukan saja bermakna dia telah membelakangi Islam malahan dia dapat digolongkan sebagai orang yang telah mengikuti seruan syaitan, sebagaimana yang diisyaratkan oleh Allah dalam firman-Nya :
أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ ، وَأَضَلَّهُ اللهُ عَلَى عِلْمٍ ، وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ ، وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً ، فَمَنْ
يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللهِ ، أَفَلَا تَذَكَّرُونَ ( 23 )
Maka pernahkan kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengarannya dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatan-nya ? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran ? ( Al Jaatziyah / 45 : 23 )
Di antara sikap utama orang yang mempertuhankan hawa nafsunya ialah dia akan mengikuti dan melakukan ajaran agama jika ajaran itu sesuai dengan seleranya, tetapi dia akan bersikap sebaliknya yakni tidak akan mengikuti kehendak agama jika ajaran agama itu bertentangan dengan selera hawa-nafsunya. Inilah sebenarnya sifat orang munafiq sebagimana yang digambarkan oleh Allah dalam firman-Nya :
يَكَادُ البَرْقُ يَخْطَفُ أَبْصَارَهُمْ ، كُلَّمَا أَضَاءَ لَهُمْ مَشَوْا فِيْهِ ، وَإِذَا أَظْلَمَ عَلَيْهِمْ قَامُوا ،
Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka, setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. ( Al Baqarah / 2 : 20 )
Orang-orang yang beriman semestinya menyesuaikan hawa nafsunya dengan kehendak agama, bukan sebaliknya. Hubungan Al-Quran dan Sunnah Nabi SAW dengan mukminin sama betul antara hubungan imam dengan makmumnya. Mukminin dan Mukminat selagi hidup dalam dunia ini tidak ada pilihan lain kecuali mengikuti ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Jika tidak bersikap demikian maka mereka akan terdedah dengan kesesatan. Ini sebagaimana firman Allah :
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ، وَمَنْ يَعْصِ اللهَ وَرسُولَهُ ، فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِيْنًا (36
Dan tidaklah patut bagi laki laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukminat apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.(Al Ahzab / 33 : 36)
Dan kerana masuk ke dalam Islam secara keseluruhannya tidak mungkin akan tercapai kecuali dengan menyalahi perjalanan syaitan, oleh sebab itulah maka pada lanjutan ayat di atas Allah SWT melarang keras kita mengikuti langkah-langkah syaitan :
وَلَا تَتَّبِعُواخُطُواتِ الشَّيْطَانِ ، إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِيْنٌ ( 208 )
dan janganlah kamu turuti langkah langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. (208)
Maksud ayat ini : Patuhilah perintah Allah dengan mentaati-Nya dan jauhilah suruhan syaitan kerana semua suruhannya membawa kepada dosa dan neraka. Ini sebagaimana firman Allah :
إِنَّمَا يَأْمُرُكُمْ بِالسُّوْءِ وَالفَحْشَاءِ وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ (
Sesungguhnya syaitan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji , dan agar kamu mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui. ( Al Baqarah / 2 : 169 )
إِنَّمَا يَدْعُوا حِزْبَهُ لِيَكُوْنُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيْ
Sesungguhnya syiatan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala. ( Fathir / 35 : 6 )
Barangsiapa yang merenungi hakikat di atas secara mendalam niscaya pasti dia akan mengetahui betapa jahatnya syaitan dan betapa buruknya akibat yang bakal menimpa orang yang mengikuti suruhannya. Sungguh tepat kalau syaitan dikatakan sebagai musuh yang nyata bagi manusia.
Perkataan syaitan ( شَيْطَانٌ ) diambil dari akar kata (شَطَنَ ) yang artinya ( بَعُدَ ) : Jauh. Oleh sebab itu ulama Aqidah mengartikan perkataan syaitan dengan ( بَعِيْدٌ عَنِ الحَقِّ ) : Jauh daripada kebenaran. Sedangkan ( الحَقُّ ) : kebenaran pula adalah segala yang datang daripada Allah WT sebagaimana firman Allah :
الحَقُّ مِنْ رَبِّكَ ، فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ المُمْتَرِيْنَ
Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu. ( Al-Baqarah / 2 : 147 )
Sayyid Qutub RH berkata :
Kalau Allah SWT menyuruh orang-orang yang beriman agar masuk ke dalam Islam secara menyeluruh, dan selanjutnya melarang mereka daripada mengikuti langkah-langkah syiatan, maka ini memberi isyarat yang sangat jelas bahwa jalan dihadapan manusia hanya ada dua jalan sahaja. Apakah mereka memasuki ke dalam Islam secara menyeluruh, ataukah mereka mengikuti jalan-jalan syaitan. Apakah mereka di dalam hidayah yakni petunjuk, atau mereka berada di dalam dhalalah atau kesesatan, apakah mereka di dalam Islam atau di dalam kejahilan.
Hakikat ini diperkuatkan lagi dengan firman Allah :
أَلَمْ أَعْهَدْ إِلَيْكُمْ يَابَنِى أَدَمَ أَنْ لَا تَعْبُدوا الشَّيْطَانَ ، إِنَهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِيْنٌ ) 60) وَأَنِ اعْبُدُونِى ، هَذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيْمٌ ( 61 )
Bukankah Aku telah berjanji (memerintahkan) kepadamu Hai Bani Adam (manusia) supaya kamu tidak menyembah syaitan ? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu", Dan hendaklah kamu menyembah-Ku. Inilah jalan yang lurus. ( Yasiin / 36 : 60-61 )
( Al-Baqarah : 208 )
يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِى السِّلْمِ كَافَّةً ، وَلَا تَتَّبِعُواخُطُواتِ الشَّيْطَانِ ، إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِيْنٌ ( 208 )
TERJEMAHAN :
208. Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.
TAFSIR AYAT :
Dalam ayat-ayat sebelumnya Allah S.W.T. telah membagi manusia kepada dua golongan iaitu golongan yang suka membuat kerusakan di atas muka bumi dan golongan yang ikhlas yang hanya mengharap keredhaan Allah dan sentiasa taat dan patuh dengan ketentuan-Nya. Dan dalam ayat berikut pula Allah menjelaskan bahawa sifat dan sikap orang-orang yang beriman sentiasa cenderong kepada perpaduan dan tidak berpecah belah. Mereka disuruh oleh Allah agar masuk ke dalam Islam secara menyeluruh , dan jangan masuk Islam setengah setengah.
Pada masa yang sama orang-orang yang beriman juga dilarang agar jangan mengikuti langkah-langkah syaitan, sebab syaitan itu bagi manusia adalah musuh yang sangat nyata.
يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِى السِّلْمِ كَافَّةً ، وَلَا تَتَّبِعُواخُطُواتِ الشَّيْطَانِ ، إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِيْنٌ ( 208 )
208. Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu turuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.
Di dalam ayat ini Allah SWT menyuruh orang-orang yang beriman agar masuk ke dalam agama Islam secara menyeluruh ( syumul ) dan jangan setengah-setengah.
Syaikh Muhammad 'Aliy Al-Sabuniy berkata : Allah SWT memerintahkan orang-orang yang beriman dalam ayat ini agar mematuhi hukum-hakam-Nya dan menerima arahan-Nya serta masuk Islam, sebab Dia tidak menerima agama selainnya. Masuklah kamu ke dalam Islam secara menyeluruh, dalam urusan hukumnya dan syari'atnya. Janganlah kamu mengambil hanya sebahagian hukum dan meninggalkan hukum yang lain. Janganlah kamu hanya mengambil solatnya tetapi enggan mengeluarkan zakat, sebagai contoh. Islam adalah menyeluruh adalah Kaaffah (Comprehensive / Syumul), ia tidak terpisah-pisah. Itulah sebabnya sambungan ayat Allah SWT menegaskan : Janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu bagi kamu adalah musuh yang sangat nyata.
Munurut Imam Al Maraghy maksud ayat di atas :
Hai orang-orang yang beriman dengan lidah dan hatinya, hendaklah kamu kekal di dalam ke-Islamanmu setiap kamu memulai hari-harimu dan janganlah sekali-kali kamu terkeluar daripada ajarannya walaupun sedikit. Bahkan ambillah ajaran Islam secara menyeluruh dalam kehidupanmu dan jadikan Islam sebagai cara hidupmu (way of life). Lihatlah segala urusan harianmu dengan kaca mata Islam dan sesuaikanlah segala tindak tandukmu dengan nas-nas Al Quran dan Al Hadis serta beramallah dengan berpandukan kepadanya. Janganlah ada di kalangan kamu orang yang mengambil hujjah sesuka hatinya semata-mata berdasarkan logika tanpa merujuk kepada Al-Quran dan Al-Sunnah untuk mengalahkan pihak yang lain. Dan jika perkara ini dapat dipatuhi niscaya akan terhindarlah kamu daripada perpecahan dan permusuhan dan akan wujudlah perpaduan berdasarkan tali Allah (HablulLaah)
Allah SWT berfirman :
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيْعًا وَلَا تَفَرَّقُوا ،
Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, ( Ali-'Imran / 3 : 103 )
Jadi dengan lain perkataan semua orang yang benar-benar beriman mestilah menyesuaikan segala tindak tanduknya dengan kehendak Islam dan janganlah ada di antara mereka yang mempertuhankan hawa nafsunya (mengikuti hawa nafsunya), sebab sikap demikian bukan saja bermakna dia telah membelakangi Islam malahan dia dapat digolongkan sebagai orang yang telah mengikuti seruan syaitan, sebagaimana yang diisyaratkan oleh Allah dalam firman-Nya :
أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ ، وَأَضَلَّهُ اللهُ عَلَى عِلْمٍ ، وَخَتَمَ عَلَى سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ ، وَجَعَلَ عَلَى بَصَرِهِ غِشَاوَةً ، فَمَنْ
يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللهِ ، أَفَلَا تَذَكَّرُونَ ( 23 )
Maka pernahkan kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengarannya dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatan-nya ? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran ? ( Al Jaatziyah / 45 : 23 )
Di antara sikap utama orang yang mempertuhankan hawa nafsunya ialah dia akan mengikuti dan melakukan ajaran agama jika ajaran itu sesuai dengan seleranya, tetapi dia akan bersikap sebaliknya yakni tidak akan mengikuti kehendak agama jika ajaran agama itu bertentangan dengan selera hawa-nafsunya. Inilah sebenarnya sifat orang munafiq sebagimana yang digambarkan oleh Allah dalam firman-Nya :
يَكَادُ البَرْقُ يَخْطَفُ أَبْصَارَهُمْ ، كُلَّمَا أَضَاءَ لَهُمْ مَشَوْا فِيْهِ ، وَإِذَا أَظْلَمَ عَلَيْهِمْ قَامُوا ،
Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka, setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa mereka, mereka berhenti. ( Al Baqarah / 2 : 20 )
Orang-orang yang beriman semestinya menyesuaikan hawa nafsunya dengan kehendak agama, bukan sebaliknya. Hubungan Al-Quran dan Sunnah Nabi SAW dengan mukminin sama betul antara hubungan imam dengan makmumnya. Mukminin dan Mukminat selagi hidup dalam dunia ini tidak ada pilihan lain kecuali mengikuti ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Jika tidak bersikap demikian maka mereka akan terdedah dengan kesesatan. Ini sebagaimana firman Allah :
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ، وَمَنْ يَعْصِ اللهَ وَرسُولَهُ ، فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِيْنًا (36
Dan tidaklah patut bagi laki laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukminat apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.(Al Ahzab / 33 : 36)
Dan kerana masuk ke dalam Islam secara keseluruhannya tidak mungkin akan tercapai kecuali dengan menyalahi perjalanan syaitan, oleh sebab itulah maka pada lanjutan ayat di atas Allah SWT melarang keras kita mengikuti langkah-langkah syaitan :
وَلَا تَتَّبِعُواخُطُواتِ الشَّيْطَانِ ، إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِيْنٌ ( 208 )
dan janganlah kamu turuti langkah langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. (208)
Maksud ayat ini : Patuhilah perintah Allah dengan mentaati-Nya dan jauhilah suruhan syaitan kerana semua suruhannya membawa kepada dosa dan neraka. Ini sebagaimana firman Allah :
إِنَّمَا يَأْمُرُكُمْ بِالسُّوْءِ وَالفَحْشَاءِ وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ (
Sesungguhnya syaitan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji , dan agar kamu mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui. ( Al Baqarah / 2 : 169 )
إِنَّمَا يَدْعُوا حِزْبَهُ لِيَكُوْنُوا مِنْ أَصْحَابِ السَّعِيْ
Sesungguhnya syiatan-syaitan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala. ( Fathir / 35 : 6 )
Barangsiapa yang merenungi hakikat di atas secara mendalam niscaya pasti dia akan mengetahui betapa jahatnya syaitan dan betapa buruknya akibat yang bakal menimpa orang yang mengikuti suruhannya. Sungguh tepat kalau syaitan dikatakan sebagai musuh yang nyata bagi manusia.
Perkataan syaitan ( شَيْطَانٌ ) diambil dari akar kata (شَطَنَ ) yang artinya ( بَعُدَ ) : Jauh. Oleh sebab itu ulama Aqidah mengartikan perkataan syaitan dengan ( بَعِيْدٌ عَنِ الحَقِّ ) : Jauh daripada kebenaran. Sedangkan ( الحَقُّ ) : kebenaran pula adalah segala yang datang daripada Allah WT sebagaimana firman Allah :
الحَقُّ مِنْ رَبِّكَ ، فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ المُمْتَرِيْنَ
Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu. ( Al-Baqarah / 2 : 147 )
Sayyid Qutub RH berkata :
Kalau Allah SWT menyuruh orang-orang yang beriman agar masuk ke dalam Islam secara menyeluruh, dan selanjutnya melarang mereka daripada mengikuti langkah-langkah syiatan, maka ini memberi isyarat yang sangat jelas bahwa jalan dihadapan manusia hanya ada dua jalan sahaja. Apakah mereka memasuki ke dalam Islam secara menyeluruh, ataukah mereka mengikuti jalan-jalan syaitan. Apakah mereka di dalam hidayah yakni petunjuk, atau mereka berada di dalam dhalalah atau kesesatan, apakah mereka di dalam Islam atau di dalam kejahilan.
Hakikat ini diperkuatkan lagi dengan firman Allah :
أَلَمْ أَعْهَدْ إِلَيْكُمْ يَابَنِى أَدَمَ أَنْ لَا تَعْبُدوا الشَّيْطَانَ ، إِنَهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِيْنٌ ) 60) وَأَنِ اعْبُدُونِى ، هَذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيْمٌ ( 61 )
Bukankah Aku telah berjanji (memerintahkan) kepadamu Hai Bani Adam (manusia) supaya kamu tidak menyembah syaitan ? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu", Dan hendaklah kamu menyembah-Ku. Inilah jalan yang lurus. ( Yasiin / 36 : 60-61 )
Thursday, March 16, 2017
Doa Taubat Nabi Adam
Telipuk nak berkongsi sedikit ilmu yang menjadi lebih mudah diperolehi dengan adanya teknologi. Begitu kita harus memanfaatkan teknologi, bukan membiarkan kita semakin hanyut dan lagha. Ini perkongsian daripada Ustaz Asraff Ayob Al-Hafiz. Telipuk akan buat entri untuk setiap perkongsian supaya mudah nak rujuk nanti. Kalau Telipuk simpan merata-rata, takut tak jumpa pula...maklumlahhh...;).
Semoga memberi manfaat juga kepada sesiapa jua yang membaca.
-------------------------------------------------------------------------------
TADABBUR SEHARI 1 AYAT.
DIBAWAKAN OLEH : USTAZ ASRAFF AYOB AL-HAFIZ
SURAH AL-A'RAF, AYAT 23
قَالاَ رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
'Mereka berdua merayu : Ya Allah, Kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak ampunkan kami dan memberi rahmat kepada kami, nescaya kami orang-orang paling rugi'.
--------------------------------------------------------------------------------
Selaku manusia biasa kita sedar, diri ini diselubungi salah dan silap. Kita hamba penuh dosa tetapi punya impian meraih syurga. Sebab itu, kita tidak jemu beristighfar dan solat taubat. Cuma kadangkala terdetik dalam hati, adakah Tuhan sudi menerima hamba yang banyak khilaf ini?
Kita tertanya, jika doa taubat terbaik itu wujud, apakah doanya?
Mari belajar dari 'moyang' kita, Nabiyyuna Adam a.s. Moyang yang dahulunya pernah melakukan kesilapan. Ditempatkan di tempat sejuta nikmat, syurga tertinggi ditemani isteri penyejuk hati. Bergembiralah di dalamnya, kata Tuhan. Cuma jangan langgar satu syarat sahaja : jangan dekati pokok durjana. Kelak anda bakal disingkirkan dari syurga.
Anda tahu apa terjadi selepasnya. Nabi Adam melanggar 'pantang' yang membuatkan Tuhan murka. Baginda bertaubat sesungguh hati. Cuma bukan mudah untuk taubatnya terus diterima.
Akhirnya, seperti dinyatakan dalam Surah Al-Baqarah ayat 37, selepas baginda menyampaikan satu doa penuh luarbiasa, Tuhan sudi menerima taubatnya.
Doa luarbiasa : Robbana Zolamna anfusana...., dalam Surah Al-A'raf, ayat 23. Saya yakin anda menghafalnya.
Doa ini sengaja Tuhan share dalam Al-Quran agar kita, anak-cucu Nabi Adam yang melakukan kesalahan, kita tahu cara memohon ampun dengan adab & pertuturan yang betul.
Bacalah doa itu sepenuh hati dengan menghadirkan intisari maknanya : sebuah penyesalan terbesar dari lubuk hati terdalam. Dan jangan lupa, 'top-up' doa anda dengan menyertakan sekali 'istighfar kabir' yang diajarkan Rasulullah s.a.w.
Ia adalah penghulu istighfar. Doa penyesalan yang bermula dengan kata, 'Allahumma anta robbi.....'
Jika anda tidak mengetahuinya, google sahaja 'penghulu istighfar'. Pasti hasil cariannya keluar serta-merta.
Sekian, 'Wassalamu ala manit taba'al huda'
Dan selamat & amanlahlah kehidupan mereka yang sentiasa suka menuruti petunjuk Al-Quran - Surah Toha, ayat 47
Semoga memberi manfaat juga kepada sesiapa jua yang membaca.
-------------------------------------------------------------------------------
TADABBUR SEHARI 1 AYAT.
DIBAWAKAN OLEH : USTAZ ASRAFF AYOB AL-HAFIZ
SURAH AL-A'RAF, AYAT 23
قَالاَ رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
'Mereka berdua merayu : Ya Allah, Kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak ampunkan kami dan memberi rahmat kepada kami, nescaya kami orang-orang paling rugi'.
--------------------------------------------------------------------------------
Selaku manusia biasa kita sedar, diri ini diselubungi salah dan silap. Kita hamba penuh dosa tetapi punya impian meraih syurga. Sebab itu, kita tidak jemu beristighfar dan solat taubat. Cuma kadangkala terdetik dalam hati, adakah Tuhan sudi menerima hamba yang banyak khilaf ini?
Kita tertanya, jika doa taubat terbaik itu wujud, apakah doanya?
Mari belajar dari 'moyang' kita, Nabiyyuna Adam a.s. Moyang yang dahulunya pernah melakukan kesilapan. Ditempatkan di tempat sejuta nikmat, syurga tertinggi ditemani isteri penyejuk hati. Bergembiralah di dalamnya, kata Tuhan. Cuma jangan langgar satu syarat sahaja : jangan dekati pokok durjana. Kelak anda bakal disingkirkan dari syurga.
Anda tahu apa terjadi selepasnya. Nabi Adam melanggar 'pantang' yang membuatkan Tuhan murka. Baginda bertaubat sesungguh hati. Cuma bukan mudah untuk taubatnya terus diterima.
Akhirnya, seperti dinyatakan dalam Surah Al-Baqarah ayat 37, selepas baginda menyampaikan satu doa penuh luarbiasa, Tuhan sudi menerima taubatnya.
Doa luarbiasa : Robbana Zolamna anfusana...., dalam Surah Al-A'raf, ayat 23. Saya yakin anda menghafalnya.
Doa ini sengaja Tuhan share dalam Al-Quran agar kita, anak-cucu Nabi Adam yang melakukan kesalahan, kita tahu cara memohon ampun dengan adab & pertuturan yang betul.
Bacalah doa itu sepenuh hati dengan menghadirkan intisari maknanya : sebuah penyesalan terbesar dari lubuk hati terdalam. Dan jangan lupa, 'top-up' doa anda dengan menyertakan sekali 'istighfar kabir' yang diajarkan Rasulullah s.a.w.
Ia adalah penghulu istighfar. Doa penyesalan yang bermula dengan kata, 'Allahumma anta robbi.....'
Jika anda tidak mengetahuinya, google sahaja 'penghulu istighfar'. Pasti hasil cariannya keluar serta-merta.
Sekian, 'Wassalamu ala manit taba'al huda'
Dan selamat & amanlahlah kehidupan mereka yang sentiasa suka menuruti petunjuk Al-Quran - Surah Toha, ayat 47
Subscribe to:
Posts (Atom)