Sukaku kongsikan bait-bait indah yang benar-benar menjentik hati saat ku merasa ingin menyerah kalah dan tinggalkan segala yang telah ku usahakan
Doa dan berdoa semoga Allah memberikan taufik dan hidayahNya, dan menunjukkan aku jalan yang benar. Aminn.
#######################################################
Sudah di gunung, pantai kau rindukan
Tiba di pantai, gunung yang kau inginkan
Saat kemarau, kau tanya kapan hujan
Diberi hujan, kemarau kau tanyakan
Sudah tenang di rumah, pengin pergi
Begitu pergi, kau ingin ke rumah kembali
Sudah dapat ketenangan, keramaian kau cari
Keramaian kau temukan, ketenangan kau rindui
Apa sebenarnya yang kau cari?
Belum berkeluarga, mencari isteri/suami
Sudah berkeluarga, mengeluh anak belum diberi
Dapat anak, mengeluh kagi kurang rejeki
Kapankah kebahagiaan akan didapatkan?
Kalau yang belum ada selalu kita pikirkan
Sedang yang sudah diberi Allah kita abaikan
Bukankah telah banyak yang kau dapatkan?
Mungkinkah selembar daun bisa menutup bumi
Sedang kau tak bisa menutup telapak tangan sendiri
Tetapi saat selembar daun kecil menempel di mata
Maka bumi yang luas seperti tertutup semua
Begitu juga bila hatimu ditutupi keburukan
Seolah-olah yang tak cocok denganmu selalu kejelekan
Seluruh bumi seolah tak ada kebaikan
Padahal letaknya cuma hatimu yang ketutupan
Jangan tutup matamu dengan daun kecil
Jangan tutup hatimu dengan kotoran secuil
Syukuri nikmat Allah, meski kelihatan mungil
Terus istiqomah dengan sunnah maka kelak kau berhasil
Bila buruk hatimu, buruk pula akhlaqmu
Bila tertutup hatimu, tertutuplah segala sesuatu
Syukurilah semua apa yang ada padamu
Dari situ engkau memuliakan dirimu
Belajarlah berterima kasih kepada Allah Ta'ala
Sebagai modal untuk memuliakan Nya
Karena hidup adalah waktu yang dipinjamkan
Dan harta adalah anugerah yang dipercayakan
Showing posts with label sajak pilihan. Show all posts
Showing posts with label sajak pilihan. Show all posts
Monday, April 25, 2016
Thursday, March 03, 2016
Road Not Taken by Robert Frost
Two roads diverged in a yellow wood,
And sorry I could not travel both
And be one traveler, long I stood
And looked down one as far as I could
To where it bent in the undergrowth;
Then took the other, as just as fair,
And having perhaps the better claim
Because it was grassy and wanted wear,
Though as for that the passing there
Had worn them really about the same,
And both that morning equally lay
In leaves no step had trodden black.
Oh, I kept the first for another day!
Yet knowing how way leads on to way
I doubted if I should ever come back.
I shall be telling this with a sigh
Somewhere ages and ages hence:
Two roads diverged in a wood, and I,
I took the one less traveled by,
And that has made all the difference.
And sorry I could not travel both
And be one traveler, long I stood
And looked down one as far as I could
To where it bent in the undergrowth;
Then took the other, as just as fair,
And having perhaps the better claim
Because it was grassy and wanted wear,
Though as for that the passing there
Had worn them really about the same,
And both that morning equally lay
In leaves no step had trodden black.
Oh, I kept the first for another day!
Yet knowing how way leads on to way
I doubted if I should ever come back.
I shall be telling this with a sigh
Somewhere ages and ages hence:
Two roads diverged in a wood, and I,
I took the one less traveled by,
And that has made all the difference.
Monday, December 17, 2012
Inspired!
Nameless
By: Yasmin Mogahed
There’s salvation in admitting defeat.
The peace of prostration.
Just stay still in that position,
With your head lowered.
Freeze.
Wait.
Stay humbled.
Wait.
Stay lowered. Until He raises you.
They’ve searched the world
for what can be found in the quietest corners of a room.
They search a million words for what can only be found in silence.
They create a million names for the nameless.
For what can only be found in wordless thought.
Nameless states.
Stop letting it own you.
Let it go.
Let it go for Him and He will honor you.
He will raise you.
I looked on every street corner,
Inside every store window,
In and through both heartache and beauty,
Inside the story within the story,
Behind the sheet music.
Names. We’re always looking for names.
We try to name all of it.
We think that if only we could name each chain,
they would all break.
Maybe I need to live between.
Between the words, the heart,
the space between earth and sky.
Maybe I could live there.
In the space between knowledge and understanding.
Between love and letting go.
In the place where it stops hurting to be so far away.
The place where you’re already there.
In the nameless.
He said, “She feels like a habit I’ll never break.”
Break.
Break, so you can break.
The strong fall so they can stand.
Fall.
There’s salvation in admitting defeat.
Adam (AS) admit defeat.
Yunus (AS) admit defeat.
Nuh (AS) admit defeat.
Ayoub (AS) admit defeat.
Muhammad (SAW) admit defeat.
How can you claim to be strong?
Monday, October 20, 2008
Sajak Oleh Dr. Ibrahim Ghaffar
Seperti yang tersiar dalam ruangan Sastera dan Budaya, sisipan Mega keluaran Utusan Malaysia bertarikh 16 Oktober 2008.
Ratu Anjing; Yang Melengking Itu
(Panggak Binasa Terlajak Kata)
I
Ratu anjing itupun melengking
menyalak galak mengasah taring
setelah lepas tersepit pengancing
lalu keluar dari kandang akal yang sinting,
munci; Wajah yang sering berpaling
dan sanggah yang polang-poling
menunjuk telunjuk berkait kelingking.
Makhluk juga; Takdirnya dia...anjing
tabiat 'bagai melihat bayang di air yang bening'.
II
Masyarakat anjing itupun riuh
menyambut pulang seekor tokoh
dari paksina kedaksina gamat gemuruh
menggonggong tulang-tulang tanpa roh
pameo pusaka dari benua jauh
panggak yang terlanjur angkuh
alibi 'telur tembelang' di hari ketujuh
telah jatuh ke wajah ratu yang selingkuh
mengandaikan kabilah mudah diperbodoh
III
Suci suatu subuh itu terganggu
salak anjing antara azan yang syahdu
melihat kelibat siluman dan hantu
tawakal muazin menuju nawaitu
tertip titipan taqwa pada yang satu
biarkan ratu anjing itu menyalak waktu
bukit bukau tetap jitu
gunung-ganang tetap padu
manusia perlu berakal dan berilmu
IV
Alam maya bukan mutlak milik kita
dipinjamkan cuma sementara
dipentas ini kesempatan bersama
berjuta makhluk berbagai rupa
ketentuan anjing-anjing juga ada
V
Kok anjing biar meyalak
kok bukit biar berpuncak
kok terasa menyelar bijak
bumi juga tempat berpijak
padah kata bila kata terlajak
Ratu Anjing; Yang Melengking Itu
(Panggak Binasa Terlajak Kata)
I
Ratu anjing itupun melengking
menyalak galak mengasah taring
setelah lepas tersepit pengancing
lalu keluar dari kandang akal yang sinting,
munci; Wajah yang sering berpaling
dan sanggah yang polang-poling
menunjuk telunjuk berkait kelingking.
Makhluk juga; Takdirnya dia...anjing
tabiat 'bagai melihat bayang di air yang bening'.
II
Masyarakat anjing itupun riuh
menyambut pulang seekor tokoh
dari paksina kedaksina gamat gemuruh
menggonggong tulang-tulang tanpa roh
pameo pusaka dari benua jauh
panggak yang terlanjur angkuh
alibi 'telur tembelang' di hari ketujuh
telah jatuh ke wajah ratu yang selingkuh
mengandaikan kabilah mudah diperbodoh
III
Suci suatu subuh itu terganggu
salak anjing antara azan yang syahdu
melihat kelibat siluman dan hantu
tawakal muazin menuju nawaitu
tertip titipan taqwa pada yang satu
biarkan ratu anjing itu menyalak waktu
bukit bukau tetap jitu
gunung-ganang tetap padu
manusia perlu berakal dan berilmu
IV
Alam maya bukan mutlak milik kita
dipinjamkan cuma sementara
dipentas ini kesempatan bersama
berjuta makhluk berbagai rupa
ketentuan anjing-anjing juga ada
V
Kok anjing biar meyalak
kok bukit biar berpuncak
kok terasa menyelar bijak
bumi juga tempat berpijak
padah kata bila kata terlajak
Subscribe to:
Posts (Atom)
