Saturday, February 21, 2026

Rethinking the "Four Burners": Why Islamic Success Doesn’t Require a Trade-off

Have you ever heard of the "Four Burners Theory"?

I stumbled across it just yesterday while scrolling through Instagram, trying to blink away the sleep from my eyes. The theory suggests that life is like a stove with four burners on it. Each burner represents a vital part of your life namely your family, your health, your friends, and your work.

The catch? The theory claims that to be successful, you must cut off one of your burners. To be really successful, you have to cut off two. It reveals a harsh truth we all eventually face: we cannot have it all due to the constraints of time and energy. Every choice has a cost.

It’s an interesting perspective. Think of Elon Musk, who famously turned off his "family" burner to maximize his "work" burner. Or Mark Zuckerberg, who arguably sidelined friendship and privacy to build an empire. But as I sat with this, I realized there is a fundamental flaw in this theory i.e. the definition of success.

When I look at this through the lens of my faith, the math changes. In Islam, real success which is known as Al-Falah, isn't measured by accumulated wealth, social status, or worldly power. Instead, it is defined by achieving God’s pleasure and attaining salvation in the afterlife (Akhirah).

While Islam encourages us to be productive and ethical, these efforts are a means to an end, not the end itself. True success is the state of being "saved" from the spiritual ruin of the soul. The Quran clearly distinguishes between the "illusion" of worldly success and the "reality" of ultimate success:

"Every soul will taste death, and you will only be given your [full] compensation on the Day of Resurrection. So he who is drawn away from the Fire and admitted to Paradise has attained [true] success. And what is the enjoyment of worldly life except the enjoyment of delusion."  — Ali' Imran (3:185)

To achieve Al-Falah, the Quran provides several spiritual and practical benchmarks:

  1. Purification of the Soul (Tazkiyah): Success is an internal state. "He has succeeded who purifies it [the soul]" Asy-Syams (91:9).

  2. Faith and Action: It is a fusion of Iman (belief) and Amal Salih (righteous deeds). This includes humility in prayer, avoiding vanity, and fulfilling trusts.

  3. Consistency: Five times a day, the Adhan (call to prayer) echoes the phrase Hayya ‘alal falah which means "Come to success." This is a constant reminder to refocus on the Creator amidst the chaos of daily tasks.

In the Islamic worldview, a successful person is one who leaves the world better than they found it while keeping their heart firmly attached to the Divine.

The struggle many face today stems from the belief that this life is the only one we have. This mindset forces us to put an enormous, exhausting effort into "work" just to enjoy being rich or famous. We seek the recognition of people, when we should be seeking the pleasure of Allah.

When your intention is to please Allah, your perspective on the "burners" shifts. You don't have to "turn off" your family to succeed at work. In fact, caring for your family, maintaining your health, and being a good friend are all acts of worship (Ibadah) when done with the right intention.

By following the teachings of Islam, you naturally manage your dealings with neighbors, society, and even nature. You aren't "trading off" these parts of your life, you are leveraging them.

There is no need to freak out about the Four Burners. In Islam, the world is not a stove where you must choose which flame to extinguish, instead, it is the bridge to your final destination. And that is what matters most.

Thursday, February 19, 2026

The Intentional Ramadan

I told myself that I am going to do better this year. I will do the "normal" things, yes—but with an extra punch. By that, I mean doing them with a deeper understanding. I’ve realized that this Ramadan isn't about me. Wallahi, my Lord does not require me to starve myself while I do nothing that pleases Him. If I enter this month with the wrong mindset, I will only end up hungry and thirsty for no reason. Perhaps I would lose a couple of kilos by the end of the month, but that’s it—and those kilos usually find their way back during Syawal anyway.

I must seek to do better this time because I may not get another chance. I have seen so many people I know who didn't get the honor of entering the "School of Ramadan" this year. My aunt didn't make it. My childhood neighbor didn't make it. I don't even know if I will make it to the end of the month myself. The probability is uncertain, and the stakes are high.

Because of this, I’ve started making dua’a from day one, hoping to reach Laylatul Qadr. It is one of the top three prayers we should prioritize from the very start, rather than waiting for the last ten days. We must also constantly ask Allah to remove our names from the list of the inhabitants of an-Nar (the Fire) and beg Him to accept our amal (deeds). We cannot afford to be complacent. We might feel like we’ve done a lot with our Quran reading, extra solat, and sadaqah, but our efforts may not always meet the standards set by Allah. In the end, it is never about the quantity, but the quality.

As I stand at the threshold of this month, my heart is overflowing with gratitude just to have reached the first day of Ramadan. Being here is a gift, not a guarantee. My hope is that these thirty days will be a period of genuine refining, where my character is polished and my intentions are purified. I don't just want to pass through Ramadan. I want Ramadan to pass through me, leaving me a better, softer, and more God-conscious person than I was when the crescent moon first appeared. I pray that every prostration brings me closer to Him and that by the time the month concludes, I am not just lighter in body, but lighter in soul.

Ameen.





 

Wednesday, October 08, 2025

Asbab

Saya belajar satu benda yang penting. Ini adalah pertama kalinya saya cuba menerangkannya dalam bentuk perkataan, sebelum ia tenggelam dalam hiruk pikuk pemikiran saya. Ia adalah tentang mengambil tindakan, berusaha melakukannya tanpa mengetahui apakah ia akan membuahkan hasil yang diharapkan. Bagi saya, hasil tu jangan difikirkan dulu. Buat dulu. Sebab hasil akan dapat asbab dari usaha kita. Bukan hasil itu dapat sebab kita buat seperti apa kita plan. Ketahuilah ianya tidak pernah ada dalam kawalan kita. Ia milik Yang Maha Esa. 

Okay, saya nak bagi contoh. Contoh yang sangat simple dan saya percaya semuapun boleh membayangkannya. Semenjak kena masuk pejabat sepebuh masa ini, saya selalu perasan yang waima saya cuba cepat siap, masih saya tak dapat keluar dari rumah jam 7 pagi. Paling cepat 7.15 pagi. Biasanya 7.40 pagi. Entah kenapa. Kadang-kadang tak de pun sibuk-ibuk memasak, ada harinya saya minta suami belikan makanan sahaja. Tapi still tak dapat keluar jam 7. Tapi ada harinya beriya saya memasak breakfast dan lunch, boleh pulak jam 7.30 siap...hahahaha. Anyway, saya dah tahu sebenarnya apa. Betul, masa cepat berjalan. Dan terlebih betul ialah apa niat kita. Niat nak sampai sedikit awal sebelum parking percuma penuh, dalam masa yang sama ada tanggungjawab yang perlu dilunaskan. Pening? Jangan pening...buat je. Ikut step yang perlu, lepas solat jerang air, lepas tu keluarkan kucing dan bersihkan litter box, then sambil-sambil tu tanak nasik. Panaskan lauk yang dah siap masak malam tadi. Sambil tu bancuh air dan siapkan sarapan pagi. Buat je. Kalau pukul 7.45 baru dapat masuk kereta bawa bertenang je. Baca doa memandu jangan lupa dan jalan je. Walau dalam hati berdetik, habislah...sure parking dah habis...don't worry, jalan je. Tau-tau jadi macam pagi ini....ehhhh...ada petak kosong. Alhamdulillah.

Itu yang kadang-kadang kita terlupa. Terlupa yang kita hanya boleh merencana. Yang akan menentukan dapat atau tidak itu adalah Allah. Tapi part usaha, doa dan tawakal itu kena seiring ya. Meski untuk perkara-perkara yang terasa kecil remeh. Jangan pernah memandang enteng kerana kehidupan ini penuh dengan keajaiban. Ada sekali peristiwa, saat-saat saya berasa sangat lelah...buka mata untuk memulakan hari, macam Ya Allah, tak ada kudrat rasa nak seret batang tubuh ni melalui hari. Padahal ada seribu satu perkara yang menunggu untuk diselesaikan. Bila saya ingat yang kita ni perlu buat tanpa mempertikaikan dapat atau tidak tu, suka atau tidak...saya gagahi untuk menjalani hari. Dan bila ingat bahawa dunia ini sementara, lagilah hati rasa tak apalah susah sedikit, ini kali sahaja. Pelik kan? Tapi itulah penguat semangat, yang penting...tanggungjawab laksanakan. Buat itu mesti, tak perlu berdolak dalik beralasan untuk menepis atau menangguh, kalau itulah jalanan yang perlu ditempuh, jalani sahaja. Bila dah buat, apa jua hasilnya redha. Kalau berhasil seperti kehendak hati, alhamdulillah. Jika, tidak...pasti ada hikmahnya. Berlapang dada sahaja. Pegang ini pasti hidup rasa tenang sahaja, tak de keluh kesah. In shaa Allah.

Thursday, September 18, 2025

Refleksi Pagi

Alhamdulillah, pagi ini saya ada mesyuarat di luar. Jadi, saya akan terus ke lokasi kejadian dari rumah. Makanya, saya tidak perlu terburu-buru bersiap untuk keluar awal. Almaklumlah setiap pagi perlu berjuang mendapatkan tempat letak kereta percuma first-come, first-serve. Tak larat la hari-hari nak bayar belasan ringgit. Berlalu sudah era 'berlagak' melayahkan kad 'touch'n Go' itu memandangkan kelonggaran bekerja hybrid itu sudahpun dimansuhkan sepenuhnya. Okay, tak apa...kita hanya menurut perintah. 

Oleh kerana saya tak perlu masuk pejabat dulu, pagi ini sempatlah membaca sedikit kalam Allah. Saya baru terfikir tentang kaitan antara 'keampunan Allah' dengan 'jalan yang lurus'. Selalu kita dengar suruhan untuk bertaubat, memohon ampun kepada Allah atas segala dosa-dosa. Manusia mulia yang tak ada dosa seperti baginda Rasulullah SAW juga beristighfar memohon ampun setiap masa. Kalau kita sakit, atau dalam kesulitan, atau apa-apa jua situasi yang merimaskan...juga kita disarankan istighfar banyak-banyak. Rupanya memang betul ada keperluannya. Ada kaitan antara meminta ampun dengan mendapatkan penyelesaian atau kesudahan yang baik di dunia, lebih-lebih lagi di akhirat. Sesungguhnya, hanyalah manusia yang mendapatkan keampunan Allah maka dia akan ditunjukkan dengan jalan yang lurus. Jalan yang lurus, seperti mana yang didefinisikan di dalam Surah Al-Fatihah ayat ke-7 yang bermaksud, " (iaitu) jalan orang-orang yang Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai (Yahudi) dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat (Nasrani)." 

Logiknya mudah, bagaimana mungkin kita dapat melihat papan tanda hidayah Allah dengan jelas jika mata hati kita masih terlindung dengan debu-debu dosa? Dosa itu ibarat kabus tebal yang menghalang pandangan pemandu di jalan raya. Walaupun jalan di depan itu lurus, kita tetap akan meraba-raba, malah mungkin tersasar masuk ke gaung jika kabus itu tidak disingkap. Maka, memohon ampun atau beristighfar itulah yang bertindak sebagai wiper dan penyahkabur (defogger) hati. Apabila Allah mengampunkan kita, Dia sebenarnya sedang membersihkan laluan kita agar kita tidak lagi terpinga-pinga mencari arah dalam kekalutan dunia.

Sebab itulah, bila kita buntu dalam urusan kerja, sesak dengan masalah kewangan, atau pening memikirkan hal peribadi, ubatnya bukan sekadar pelan tindakan yang hebat, tetapi kembali kepada 'akar' hubungan kita dengan Pencipta. Apabila Allah reda dan mengampunkan hamba-Nya, Dia akan melapangkan dada kita untuk menerima kebenaran. "Jalan yang lurus" itu bukan sekadar destinasi di akhirat nanti, tetapi ia bermula dari sini—ketenangan dalam membuat keputusan, keberkatan dalam rezeki yang sedikit, dan kekuatan untuk terus teguh di atas syariat-Nya walaupun arus dunia sedang menggila.

Kesimpulannya, janganlah kita jemu mengetuk pintu langit dengan istighfar. Mungkin urusan parkir kereta kita dipermudahkan hari ini, atau mesyuarat luar kita berjalan lancar, itu semua adalah sebahagian daripada "nikmat" yang Allah kurniakan kepada mereka yang berada di jalan yang lurus. Akhir kata, semoga setiap hela nafas kita sentiasa dibasahi dengan permohonan ampun, agar pengakhiran kita nanti adalah pengakhiran yang diredai-Nya. Amin.

Friday, August 08, 2025

Malu

Seperti biasa pagi ini , sebelum masuk ke pejabat, Telipuk akan singgah mengambil air di pantri. Dari jauh terlihat sesusuk tubuh yang sepertinya Telipuk kenali. Dengan penuh yakin, Telipuk memberi salam...Detik-detik seterusnya adalah seperti filem gerak perlahan. Orang di sebelah yang turut sedang mengisi air berpaling perlahan...Seketika terasa seperti darah naik ke muka dan tersedar insan yang disangkakan seorang yang dikenali itu rupanya bukannnn...Nampak muka dia macam blur walaupun dia membalas.."oh haiiii..."(rewind balik...). Alamakkkk!!! Salah orang. Dalam suasana janggal itu, mujurlah Telipuk masih mampu tersenyum dan berpura-pura tak ada apa-apa. Detik-detik seterusnya adalah krik...krik...krik...(dalam hati...ishhh...apasal tumbler ni tak penuh-penuh lagiiii). 

Kisah tragis ini Telipuk ceritakan pada kawan-kawan. Kemain gelak si Nad. "Biar betul kak Nira...! Takkan la tak perasan..." . Telipuk mencebik kesal. Sungguh-sungguh tak perasaan . Kalau perasan, tak adalah Telipuk saja-saja nak menegurkan, I was never that kind of person, okay? Kemudian dengan selamba Nad memberi komen, "Mesti mamat tu tertanya-tanya siapa pulak yang pagi-pagi ni menggatal nak tackle aku"... Woiiii...hahahaha...adoiii...jangan la overthinking weyyy...Nad buat muka serius. "Iyalah kak...tetiba bagi salam cenggitu...(ko tahukan salam ala-ala nada suara apek Saipol tu kan?)...hemmm...ada-ada aje. Konon nak beramah tamah dengan kawan-kawan, sekali salah orang daa...Sibuk Nad suruh tunjukkan siapa mamat yang Telipuk tegur itu. Berkerut dahi Telipuk. Eh...bila difikir-fikirkan, macam tak boleh nak cam muka dia. Macam tak pernah tengok pulak. Dan ketika dia berpaling itu, memandangkan Telipuk dah tersedar Telipuk tersilap, memang Telipuk tak pandang muka dia betul-betul. 

Bagus jugakan, now that I realized I didn't actually able to tell who is he...tak de la rasa malu sangat kan. Hahahaha. Tiba-tiba Nad berdehem, menelengkan kepalanya seperti sedang memikirkan sesuatu. Perlahan-lahan dia berkata, "Kak Nira....anda pasti itu orang?". Tergamam sekejap, sebelum menjawab...ehhh...tentulah orang, cuma tak kenal je la. Hehehe...Nad ketawa...Manalah tahuuuu...katanya berlalu macam mencadangkan penghujung jalan cerita yang tergantung. Cisss...hampehhhh...



The Quiet Joys

We live in a world that often tells us happiness is something we chase. Hidden behind promotions, perfect vacations, or life-altering milestones. But I believe happiness isn’t a finish line. It’s a quiet companion, always nearby, waiting to be noticed.

It’s in the soft rhythm of rain tapping on the window, reminding us to slow down.

It’s in the smile from a stranger that says, “I see you.”

It’s in the unexpected text from a friend: “Hey, how are you doing?”

It’s in the first sip of coffee, the warmth of a blanket, the way sunlight dances on the floor.

These moments don’t demand attention. They don’t shout. But they hold a kind of magic that grand gestures often miss.

Too many postpone happiness, tying it to conditions: “I’ll be happy when I lose weight.” “I’ll be happy when I’m successful.” “I’ll be happy when everything is perfect.”

But perfection is a myth. And happiness doesn’t wait. It’s here, now, in the ordinary.

So today, I invite you.....

To notice.

To breathe.

To smile at the little things.

Because joy isn’t something you earn. It’s something you allow.

Tuesday, June 10, 2025

Bermula Sekali Lagi

Ini entri paling berat yang Telipuk buat. Berat sebab bukanlah sesuatu yang mudah untuk mengakui kesilapan dan berusaha memperbetulkan keadaan. Lebih berat lagi kerana perlu bermula semula. Dan berada dalam situasi 50-50 antara mahu terus melangkah dengan menoktahkan langkah bukanlah sesuatu yang menyeronokkan. Pressure lain macam.

Selepas beberapa ketika di bumi USAS, Telipuk akhirnya membuat keputusan untuk menamatkan pengajian di situ. Itupun selepas berbulan berfikir. Maklumlah, tak pernah-pernah Telipuk mengalah dalam sesuatu keadaan, tapi terpaksa jua. Rasanya itulah yang terbaik. Walaupun masa, tenaga dan wang ringgit habis begitu sahaja. 3 semester kot! Telipuk boleh je teruskan, tapi perasaan tu macam tak berapa seronok. Telipuk tidak berpuas hati dengan perkembangan diri sendiri.  Di tambah pula dengan beberapa kali perlu menunggu kehadiran SV. Mula-muda SV berpindah ke institusi lain. Ganti baru. Tak lama lepas tu SV baru ni pun berhenti pulak. Oleh kerana USAS ni kecil, maka mendapatkan SV dalam bidang yang sama memang susah. Takkan nak main rembat sahaja. Sekarang baru Telipuk faham apa yang pensyarah lama Telipuk cakap. Oklah, Telipuk tak salahkan USAS. Salah diri Telipuk ajelah sebab Telipuk tidak betul-betul mendapatkan maklumat serta membuat perancangan untuk perjalanan ini. Silap sebab ambil mudah, fikirkan sebab inisiatif sendiri pakai duit sendiri maka ikut pace sendiri je la. Betul memang betul tapi ada elemen-elemen sengaja mencampakkan diri ke dalam lembah kebinasaan. Hahahaha...awak, kalau boleh cepat faham dan cepat habis kan bagus. Kenapa nak buang masa ye tak? 

Jadi, Telipuk putuskan untuk berhenti je. Lagi dilewat-lewatkan lagi terasa kerugian. Kesudahannya macam tak nampak jalan je. Cannot go! Sedih sebenornya sebab berharap di penghujung pengajian dapat naik pentas menerima scroll dari Sultan negeri sendiri. Hahaha...pelik-pelik betul cara kau mencari sebab dan musabab ye. Ok lah, barang yang lepas jangan dikenang, bak kata orang...jika dikenang merosak badan. Chewahhhh....!!! Telipuk terimalah kesudahan perjalanan di situ. Bila dah terima, kita kena move on...so, yes, Telipuk pun move onnnn...senang kan? hahahaha...Benda boleh ejas, ejas je la. Dunia je pun.

Hemmm...walhasil balik asal. Settle je semua urusan penamatan serta usai habis 'edah'...hahahaha...Telipuk termenung sekejap. Yelah, tahun ini Telipuk dah boleh meraikan sambutan Jubli Emas...jadiiiii...macam tak best pulak kalau hidup ni dibiarkan berlalu begitu sahaja. Memanglah usia yang tinggal dah tak banyak mana, tapi selagi masih ada potensi diri, mengapa tidak diusahakan bukan? Waima cuma tinggal beberapa bulan berbaki pun...masih kehidupan ini perlu dihargai sebaik mungkin. Kalau dengar cakap-cakap orang, memang susah nak melangkah. Jadi, Telipuk tanya diri sendiri, nak proceed ke tak? Berat ke arah proceed. Ok, jalannnnn. Maka, bermulalah pencarian taman ilmu seterusnya...kali ini memang Telipuk cari institusi yang bertemakan "The garden of Knowledge". Ada sejarah dengan universiti turquoise ini...pernah mendapat tawaran buat MBA di sini tahun 2004 macam tu, sempat jugak la pergi buat kad matriks...tapi tak tahu kenapa, tak jadi hahahaha. Lupa dah. May be sebab Telipuk kebetulan ditawarkan biasiswa pengajian oleh syarikat tempat Telipuk bekerja untuk menyambung pengajian di universiti asal di utara, so, rasanya Telipuk decide pilih yang itu. 

Dipendekkan cerita yang sememangnya tak panjang mana pun, maka, Telipuk menerima tawaran dari universiti turquoise ini untuk pengajian lanjutan. Dan sedar tak sedar dah berada di penghujung semester. Mak aiiii...macam cepat giler masa berlalu. Rasa macam baru je Telipuk terhegeh-hegeh join online orientation program setelah lewat masuk kelas seminggu. Dan sekarang pun masih belum fasih dengan selok belok bangunan HS, rupanya ehhhh...dah nak habis semester ye. Apapun tak sia-sia jua pengalaman di USAS kerana ia banyak membantu Telipuk untuk lebih cakna dengan proses dan tindakan yang perlu diambil. Seronok sebab sudah berhasil merisik bakal SV, alhamdulillah, memang tak bertepuk sebelah tangan orang kata...syukurrr. Nanti naik semester baru, in shaa Allah akan proceed with official appointment dan jugak submit form untuk masuk RP defense. Fuhhh...berpeluh makkkk! 

Doakan Telipuk ye....